Tuesday, August 15, 2006

Bagian III ..Pencahayaan.......

I. Penataan Koleksi di Ruang Pamer

Setelah konsep alur cerita disepakati, langkah berikutnya adalah membuat konsep tersebut menjadi nyata, yaitu melalui penerapan tiga dimensi dalam ruang pamer. Disini dituntut peranan maksimal dari desainer peƱata pameran sehingga mampu membuat pegunjung terkesan dan informasi yang ingin diberikan sampai pada pengunjung. Kurator membuat bagaimana koleksi memiliki nilai sense of knowledge yang tinggi, namun desainer yang harus mampu menerjemahkan menjadi sense of visual.

Koleksi ditata sesuai dengan alur cerita, dapat ditempatkan di dalam vitrin atau diluar vitrin dengan memperhatikan nilai-nilai estetika dan juga faktor keamanan koleksi dan konservasi koleksi. Faktor keamanan antara lain menjaga agar koleksi tidak tercuri dengan menempatkan kamera di berbagai sudut serta menjaga dari bahaya kebakaran dengan menempatkan alarm, smoke detector (detektor asap) dan alat pemadam kebakaran. Pertimbangan kaidah konservasi juga harus diperhatikan, yaitu menjaga kondisi lingkungan dengan mengontrol temperatur, kelembaban dan cahaya dalam vitrin dan ruang pamer.

Sebagai pendukung, disekitar koleksi harus diberi label yang menceritakan latar belakang koleksi. Pembuatan label juga bukan perkara yang mudah. Label harus dibuat ringkas dan padat, sehingga dalam waktu singkat pengunjung dapat mengambil intisari dari koleksi tersebut dan pulang dengan membawa informasi.

Hal penting lain yang harus diperhatikan dalam penataan adalah cahaya. Karena dengan adanya cahaya yang jatuh menimpa koleksi dapat menimbulkan apresiasi bentuk dan warna koleksi yang lebih mendalam serta menjadikan koleksi lebih menarik. Disamping itu dengan adanya cahaya, label lebih mudah terbaca terutama untuk pengunjung yang berusia tua.

Namun perlu ditekankan, cahaya yang digunakan jangan sampai merusak koleksi. Hal ini karena dari beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan pada koleksi, kerusakan akibat cahaya adalah yang paling parah. Berdasarkan pernyataan ini, sepertinya terdapat pertentangan antara penyajian yang menarik dengan kaidah konservasi koleksi. Untuk mengatasinya harus dicari jalan tengah diantaranya sehingga keduanya dapat berjalan seiringan.

Penataan vs Pencahayaan di Museum -bagian 2

II. Konsep Penataan dan Penyajian Koleksi

Telah diketahui museum didefinisikan sebagai suatu tempat penting bagi pelestarian benda budaya dan alam yang dijadikan koleksi, dirawat, dijaga dan disajikan bagi kepentingan umat manusia sekarang dan masa yang akan datang (Hari Untoro,2004). Dengan demikian, salah satu tugas pengelola museum antara lain menyajikan koleksi yang dimiliki, berupa warisan budaya yang memiliki sifat unik dan tidak dapat digantikan. Agar dapat menarik pengunjung untuk datang, maka tidak salah jika museum dibuat semenarik mungkin sehingga tidak ada kesan bahwa museum itu gudang.

Untuk membuat penyajian yang menarik, harus memiliki konsep apa yang ingin disajikan serta pendekatan apa yang akan digunakan, karena merupakan titik awal dalam membuat alur cerita yang akan dinikmati pengunjung saat berkeliling. Selain itu dibutuhkan pula kemampuan menerjemahkan apa yang menjadi konsep untuk diterapkan di dalam ruang 3 dimensi. Sehingga konsep yang tadinya hanya ada di kepala dapat diterima oleh masyarakat luas.

Sebagai contoh adalah keadaan yang terjadi di Museum Nasional sekarang. Museum Nasional pada awal berdirinya merupakan tempat penyimpanan benda-benda kuno dan sistem penyajian koleksi merupakan warisan dari jaman Belanda dan belum ada perubahan yang mendasar.

Pendekatan yang dipakai kurang jelas, misalnya pada koleksi Etnografi digunakan pendekatan berdasarkan regional wilayah-wilayah yang ada di Indonesia, namun pada koleksi-koleksi lain digunakan juga pendekatan kronologis, yaitu dalam penyajian koleksi prasejarah arkeologi dan sejarah. Selain itu terdapat juga pendekatan berdasarkan bahan, yaitu koleksi perunggu, emas, terakota dan keramik dan pendekatan berdasarkan disiplin ilmu, yaitu koleksi geografi dan numismatik (mata uang).

Seiring dengan perkembangan waktu pendekatan yang terlalu banyak ini ternyata tidak dapat lagi dipertahankan, karena terlalu banyak fokus yang diambil, sehingga tujuan semula yang ingin memberikan informasi kepada pengunjung malah tidak sampai. Pengunjung memang memperhatikan koleksi yang dipajang, tapi nuansa yang ada di balik objek itu tidak tersampaikan, dengan kata lain koleksi tidak mampu bercerita apa sebenarnya yang ada dibelakang koleksi ini. Disamping itu pula karena koleksi di dalam museum harus menyesuaikan dengan ruangan yang ada, maka ruangan museum terasa penuh dan desain tata pameran juga terlihat mengabaikan nilai-nilai estetikanya.

Maka berdasarkan hal tersebut, dengan adanya pembangunan gedung baru, konsep penataan pameran tetap museum Nasional mulai dirubah. Hal ini karena museum Nasional ingin sekali pengunjung yang datang akan pulang membawa informasi yang diperoleh. Lalu diputuskan konsep penataan yang dipilih adalah konsep tematik, yaitu semua koleksi yang di display memiliki alur cerita yang sejalan dengan pendekatan yang telah disepakati. Pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah ekologi budaya, yaitu di dalam kehidupan masyarakat senantiasa terdapat unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal yang disebut sebagai inti budaya yang terdiri dari masyarakat sosial, kehidupan politik dan pola kepercayaan yang selalu terikat dengan kegiatan mata pencaharian dan susunan kehidupan ekonominya. Unsur-unsur yang bersifat universal tersebut akan menampakkan evolusi yang sejajar dengan berbagai kebudayaan. Disamping inti budaya terdapat juga unsur-unsur sekunder seperti teknologi, sistem pengetahuan dan kesenian yang juga menampakkan perkembangan yang khas.

Alur cerita dibuat sesuai dengan perkembangan yang terjadi pada masyarakat. Dengan mengikuti alur perjalanan, maka pengunjung seperti dituntun untuk melihat hubungan dan perkembangan tersebut selama perjalanannya mengelilingi museum.

Dengan menata koleksi sedemikian rupa, pengunjung diajak menjelajahi dimensi waktu masa lalu, melihat dinamika kehidupan manusia dan hasil karyanya guna memahami kehidupan sosial dan sejarahnya, serta untuk memperoleh pengetahuan dan pelajaran yang baru mengenai sejarah peradaban.

PENYAJIAN DAN PAMERAN KOLEKSI MUSEUM: DILEMA PENCAHAYAAN DIANTARA PENATAAN DAN KONSERVASI


bagian pertama

Pendahuluan

Ketika pengunjung mendatangi museum, ia sudah mulai bertanya, informasi apa yang akan diperoleh dengan mengunjungi museum ini. Apabila yang dikunjungi adalah museum khusus, setidaknya ia sudah mulai memperkirakan apa yang akan ditemukan.

Misalnya saat datang ke museum tekstil, ia tahu akan menemukan banyak sekali tekstil dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai macam jenis dan motif. Namun ia ingin mendapatkan informasi yang lebih dari itu, antara lain gambaran mengenai perkembangan tekstil dari dulu hingga sekarang, cara membuatnya, hingga bagaimana cara pemeliharaan dan perawatannya.

Atau apabila pergi ke museum wayang, tentu di benak si pengunjung itu ingin tahu wayang apa saja yang (pernah) ada di Indonesia, daerah mana saja yang memiliki wayang, adakah perbedaan antara wayang di suatu daerah dengan wayang di daerah lain, dan juga ingin tahu bagaimana cara memainkan wayang.

Tentunya apabila informasi yang ingin dicari ternyata ada di museum yang dikunjungi, tentu pengunjung akan puas. Kepuasan itu akan bertambah apabila ternyata pengetahuan yang diperoleh lebih dari yang ia bayangkan.

Pengunjung dapat memperoleh informasi yang diinginkan hanya dengan cara berkeliling dari suatu ruangan ke ruangan lain dengan melihat dan membaca apa yang tertera di dalam ruang pamer. Artinya koleksi beserta pendukungnya telah menjalankan tugasnya sebagai pembawa informasi dan telah melakukan komunikasi yang baik dengan pengunjung. Komunikasi yang baik di dalam museum dapat terjadi apabila koleksi di ruang pamer beserta sarana pendukungnya telah ditata sedemikian baik dan jelas mengikuti konsep yang telah dibuat oleh pengelola museum.

Dengan demikian penataan dan penyajian di ruang pamer memiliki peranan penting dalam menginformasikan keberadaan koleksi yang dimiliki museum.

Namun demikian penyajian di ruang pamer ini harus tetap memperhatikan

(i) sifat koleksi sebagai benda cagar budaya, yaitu tidak dapat diperbaharui, terbatas, baik itu dalam bentuk, jumlah dan jenisnya serta mudah rusak dan

(ii) jenis koleksi, apakah terbuat dari bahan organik (kayu, kertas, lukisan, kain, bambu), atau dari bahan anorganik (logam emas, perak,tembaga, perunggu, kuningan, besi keramik, tanah liat dan batu).

Tuesday, July 11, 2006

OOT : berita duka

Berita Duka...

Hari ini hari yang tidak terlupakan bagiku. Teman seperjuangan pulang kantor, Ibu Peni Mudji Sukati, telah pergi ke haribaan Allah, jam 9.20 pagi ini, 11 Juli 2006 di RS Persahabatan

Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...



Selamat jalan Bu Peni..., semoga amal ibadah mu diterima Allah, dan mendapatkan tempat yang layak di sisi NYA.
AMIIIIN

Saturday, June 24, 2006

ICOM-CC Working Group on Ethnographic Collections

Menjadi member sebuah organisasi international??? gak kebayang..

Dan itulah yang sekarang jadi impianku. Aku sudah gabung menjadi anggota / mailng list ICOM CC WG Ethnographic collections. Walaupun baru sebatas guest doang. Karena, aku belum jadi anggota ICOM atau friend of ICOM.
MEmang itu pribadi, tapi bayarnya cukup gede, 40 euro. per tahun.

Aku masih mikir nih, kira-kiranya......, lebih banyak yang menguntungkan atau tidak ya dengan mengeluarkan uang segituu?? (kok aku jadi perhitungan gini ya)

by the way..
I try dech....

Tuesday, June 13, 2006

MUSEUM ADALAH STORAGE


Hari ini rekan dari salah satu museum di Medan datang ke Musnas, untuk berbagi, tukar pikiran, dll. Salah satu pertanyaannya adalah, bagaimana kita menangani storage ? karena menurutnya storage di museum tempat ia bekerja sangat memprihatinkan, jauh dari perawatan ataupun hanya sekedar perhatian.

Seminggu sebelumnya kami juga didatangi mahasiswa-mahasiswi arkeo UI, salah satu pertanyaan dari ade-ade manis itu juga mengenai storage, yaitu bagaimana musnas menangani koleksi yang ada di storage.

Kedua peristiwa diatas membuat aku melek. Dan segera menyadari pasal dari BCB ( sori Pak Hari, lupa pasal berapa) , yang menyebutkan...
------museum merupakan tempat untuk menyimpan dan menjaga kelestarian koleksi........

Kembali ke realita, ke kondisi sekarang. Memang kita ternyata dari awal selalu membedakan ruang storage dengan ruang pamer......, ruang pamer, karena akan dilihat, dibuat seindah, sebagus, senyaman mungkin... dengan tema-tema tertentu, sehingga pengunjung dapat info dari objek. Sedangkan storage, benar-benar seperti gudang tempat simpan, yang seringkali kita lupa untuk menengoknya. Dibersihkan jika perlu aja...
Padahal sebenarnya.... menurut saya, gak ada itu yang namanya ruang pamer.
Semua ruangan atau tempat yang ada di museum, yang didalamnya terdapat koleksi adalah storage.

Bedanya...
Ada storage yang dapat dilihat dan dinikmati pengunjung,
Dan ada storage yang tidak dapat dikunjungi, hanya oleh staf museum atau orang-orang tertentu saja...


Jadi,
Dengan demikian, perlakuan perawatan kita terhadap keduanya akan sama....,
KARENA SAMA-SAMA BUTUH PERHATIAN, sebab didalamnya terdapat warisan budaya yang tidak ternilai harganya........
Sehingga pemilihan bahan, material, iklim (T dan RH) tidak dibeda-bedakan.

SEMUANYA MENGGUNAKAN BAHAN YANG CONSERVATION GRADE...

Yang membedakan, pada storage yang dapat dikunjungi tentunya harus ada nilai lebih, yaitu punya tema-atau alur yang menarik.


Ciputat, 13 Juni 2006



Tuesday, May 30, 2006

GEMPA JOGJA JATENG, DUKA KITA

Dear all,
Gempa SAbtu kemarin di Yogja dan JAteng menghentakkan kita semua. KIta yang was-was dengan merapi, ternyata bencana tersebut dari bawah, dari laut.

Akibatnya tidak hanya korban jiwa yang cukup banyak, namun juga banyak benda cagar budaya, situs,, candi yang terkena dampaknya...

Untuk itu, saya sebagai anak bangsa yang peduli dengan bcb, ikut prihatin dan berduka. MUdah-mudahan cepat ditangani baik oleh pemerintah atau masyarakat.
Saya ingin membantu secara moril dan juga pikiran.., khususnya mengenai konservasi dan restorasi benda bcb tersebut..
So do not hesitate to contact me....

Bye

Jakarta, 30 Mei 2006

Friday, March 03, 2006

ADA LAGI KELANJUTAN DARI KONSERVASI PREVENTIF

Di dunia konservasi sekarang ada kecenderungan baru lagi untuk memelihara koleksi museum. Setelah konservasi kuratif ditinggal, kemudian lanjut ke konservasi preventif, kecenderungan dunia konservasi sekarang ke yang lebih global lagi, yaitu RISK MANAGEMENT.

Risk Management atau manajemen resiko ini bukan hal baru di dunia transportasi, kesehatan atawa industri. KArena sudah banyak yang menerapkan, dan hasilnya sukses. Artinya, resiko yang merugikan dapat diantispasi dari awal.

MAka dari itu, dicoba diterapkan dalam dunia konservasi museum / situs. Tapi, Risk Management dalam menangani benda budaya di museum atau situs masih merupakan hal yang baru.

Sebagai alat dalam menilai, digunakan Risk Assesment (penetapan resiko) untuk menilai , dengan skor-skor tertentu.

Resiko dalam konteks benda budaya adalah hilangnya nilai dari bcb.
Yang dapat di hitung sebagai probabilitas terjadinya peristiwa (P) dan efek dari peristiwa itu terhadap koleksi / benda.

Lalu?? Tertarik ingin menerapkan??
TUnggu posting berikutnya dari saya ..

Bye...

Sunday, February 26, 2006

Apa itu Konservasi?

Banyak pertanyaan ke saya, sebenarnya konservasi itu apaan sih? apa bedanya dengan pemeliharaan? apa artinya sama dengan pembersihan atau ngelap koleksi?

Pertanyaan seperti itu membuat saya sadar, bahwa yang pertama kali harus saya lakukan di dalam tulisan-tulisan saya ini adalah istilah konservasi, sehingga kita semua punya paradigma yang sama, punya pandangan yang sama.

Konservasi itu arti sebenarnya adalah pemeliharaan koleksi. Yaitu bagaimana koleksi yang disimpan di museum dijaga, dan dirawat sehingga tidak rusak dan bertahan hingga masa yang akan datang.
Paradigma konservasi itu selalu bergeser dari masa ke masa. Dulu banget, yang namanya pemeliharaan itu,diprioritaskan langsung pada koleksi, artinya semua perlakuan ditujukan pada koleksi. Misalnya kita lihat koleksi koin perunggu penuh dengan noda kebiruan (yang berarti sudah ada korosi). Maka pemeliharaan yang kita lakukan adalah menghilangkan korosi yang ada di permukaan. Biasanya kita merendam dengan larutan sesqucarbonat sehingga noda biru terangkat.
Atau menghilangkan tarnish pada koleksi perak dengan menggunakan calcium karbonat yang sudah dibuat pasta.

Untuk sekarang, rasanya tindakan seperti itu harus dipikir-pikir dulu deh. Maksudnya prioritas ke sekian. Bukan tindakan itu tidak baik, bukan (saya sendiri sudah melakukan penelitian kecil-kecilan seberapa banyak sih sesqu yang dibutuhkan untuk mengangkat korosi, tapi tidak merusak koin?). Sampai sekarang pun kita masih melakukan.
Namun, alangkah baiknya jika sebelumnya pertanyaan kita ke arah lain dulu. Kenapa sih korosi biru itu muncul pada koin?, dari sebelum masuk museum, atau sudah (kalau sudah berarti , pertanyaan berikutnya, emangnya tu koin disimpen dimana? gimana kondisi vitrinnya. tertutup? lembab? basah?
Bener deh, kalau kita amati kondisi lingkungannya baru kita bisa mengambil kesimpulan apa yang mau kita lakukan.
Jadi kalo udah tahu penyebabnya, penyebabnya diberesin dulu, terus dilakukan treatment pada oleksi, kemudian disimpan atau dipajang lagi. Tapi, .. tempat penyimpanannya sudah direnovasi atau di rebersihin, jadi.., kecil kemungkinan korosi atau tarnish akan muncul lagi..

Begitu,
Kesimpulannya konservasi yang ingin saya kampanyekan di blog ini adalah pertama preventif dulu, baru kemudian kuratif.
Mencegah lebih baik daripada mengobati kok.....

Karena musuh koleksi di Indonesia adalah debu,lembab, serangga...Jadi perhatiin 3 in 1 ini dulu. Maka koleksi kita akan terpelihara

Sampai jumpa di artikel berikutnya

Saturday, February 11, 2006

SAHABAT MUSEUM

Agak menyimpang dari dunia konservasi, namun masih berhubungan dengan museum.
Ternyata sudah ada komunitas pencinta museum dan benda atau masa-masa sejarah atau heritage.Namanya Sahabat Museum, disingkat BatMus...Asik juga ikut milis ini, minimal kecintaan kepada masa lalu bertambah. walaupun saya belum pernah mengikuti Perjalanan Tempo Doeloe atau acara yang mereka gelar. Baru sebatas pengamat milis.
Mudah-mudahan di masa yang akan datang BatMus benar-benar jadi sahabat buat museum.
Dari mereka ini, pihak museum akan dapat masukan bagaimana sih masyarakat menerima museum sebagai bagian dari hidup?

Bravo buat Sahabat Museum, bravo juga buat para penjaga gawang dan moderatornya.